Semalam di Sukabumi

Sebelum menceritakan perjalanan ke Sukabumi, terlebih dahulu ingin kuberitahu apa alasannya berkunjung kesana. Rombongan ini terdiri dari alumni FISIP UI, angkatan tahun 71-79, plus saya angkatan 84. Awalnya berjumlah 12 orang, namun terakhir menusut menjadi 9 orang, karena 4 orang lainnya ada acara lain yang bertepatan waktunya, yakni Malam 50tahun Mapala UI. Kata kakak-kak angkatan 70an, jaman di Kampus Rawamangun dahulu, mahasiswa antar angkatan sangat kompak, dan saling mengenal satu dengan lainnya. Tidak saja teman satu fakultas, tetapi juga fakultas lainnya seperti dari Fakultas Hukum dan Sastra.Kalau acara libur atau kegiatan akhir pekan, mereka acapkali berkunjung ke Sukabumi untuk sekedar jalan-jalan. Terlebih angkatan 78, yang waktu itu pernah melakukan MPM di Sukabumi tahun 79, maka kenangan ke Sukabumi terasa berkesan. Biasanya kalau ke Sukabumi, mereka mampir ke rumah Mbak Emma (angkatan 79). Orangtua Emma memiliki rumah dengan lahan perkebunan yang luas. Total seluas 1,5 hektar, ada kolam renang dan kolam pemancingan ikan. Rumah ini sepertinya sudah menjadi tempat persinggahan bagi mereka. Kata Mbak Emma yang juga turut serta dalam rombongan, rumah peninggalan orangtuanya, kini akan dijual. Maka ketika ada rencana mau jalan-jalan, sepakat ingin ke Sukabumi untuk bernostalgia. Disamping itu ngin mencicipi angkutan kereta Sukabumi, yang jalurnya abru dibuka November 2013. Konon kalau ke Sukabumi naik obil, waktu tempuh dapat mencapai 5 jam, karena macet di beberapa titik.
Singkat kata, jadilah diatur perjalanan dengan keeta. Saya diminta untuk mengatur susunan perjalanan, dan pembelian tiket. Terlebih dahulu saya suvey untuk mengetahui dari mana pemberangkatan kereta menuju Sukabumi dan dari Jakarta menggunakan kereta komuter (commuter line) sebaik dari mana, apakah Tanjung Barat ataukah Lenteng Agung? mengingat ada yang ingin parkir inap mobil. Setelah dijajaik, dipilih Stasiun Lenteng Agung, karena parkir lebih mudah dan tidak harus putar balik. Sedangkan untuk pembelian tiket ke Sukabumi PP, meski bisa beli tiket lewat online, tetapi karena tempat kerja saya tidak jauh dari stasiun Gambir, maka saya memilih langsung membeli di Stasiun Gambir. Untuk tiket ke Sukabumi, harganya sangat murah. Sekali jalan, hanya Rp 50.000 untuk Kelas Eksekutif, sedangkan untuk Kelas Ekonomi Rp 20.000. Harga mungkin bukan masalah bagi sebagian besar calon penumpang, tetapi ketersediaan kursi yang terbatas membuat calon penumpang harus membeli tiket jauh-jauh hari. Awal Desember 2014, saya menghubungi call center PT. KAI, 121 untuk ketersediaan kursi, ternyata untuk jadwal keberangkatan tanggal 21 Desember Kelas Eksekutif, hanya tersisa 20 kursi, sedangkan untuk pulang, masih lumayan banyak kursi yang tersedia. Sabtu, 20 Desember 2014, pukul 06.00 kami semua sudah siap di Stasiun Kereta Lenteng Agung menuju Depok. Dengan harga tiket per orang Rp5000 rombongan siap naik cmmuter line. Kereta yang kini jadi primadona para komuter dari Jabodetabek, kalau hari biasa terutama di jam sibuk, tentunya sangat penuh. Namun, kini terasa longgar, meski awal naik kami sempat berdiri. untungnya hanya sebentar, bebrapa penumpang turun di stasiun berikutnya, jadi kami bisa duduk dan menikmati perjalan ke Bogor, kurang lebih 30 menit. Tiba di Stasiun Bogor, pk 06.30. Suasana Kota Bogor sudah ramai. angkot terlihat sangat padat di sepajang Kapten Muslihat. Lalu kami jalan kaki dan menyebrang lautan angkot menuju Stasiun Paledang, kira-kira membutuhkan waktu 10 menit. Tiba di Stasiun Paledang, masih ada waktu untuk keberangkatan kereta Pk. 07.55. Jadi kami menyempatkan diri untuk jajan di warung penduduk, menikmati sarapan ketupat sayur, bubur ayam, pisang goreng, dsb. Plus teh hangat Poci. nikmat sekali rasanya. Kereta Pangrango memasuki Stasiun Paledang. Mungkin dengan jumlah gerbong yang hanya 6, dengan 2 gerbong Kelas Eksekutif, 4 gerbong Kelas Ekonomi tentu saja kereta ini menjadi rebutan calon penumpang. untungnya semua sudah punya tiket dan pastinya semua kebagian tempat duduk.
Menempuh waktu perjalanan selama 2 jam, tibalah kami di Stasiun Sukabumi. Mobil yang kami sewa sudah menanti di depan stasiun. Perjalanan dilanjutkan ke rumah peninggalan orangtua Mbak Emma. Ternyata kami, masih terkena macet, sekitar 20 mnit perjalanan, kami tiba di Rumah yang dulunya sering menjadi rumah singgah. Makan siang ala Sunda sudah tersedia di meja. ada ikan, tempe, tahu, empal daging, sayur asem dll sangat menggugah selera. belum lagi kue-kue hasil bikinan sendiri. Adiknya Mbak Emma tinggal di rumah tersebut, dan dia sangat pintar membuat kue-kue. Pesanan kue-kuenya apalagi di Hari Lebaran atau Natal dapat 2 mobil penuh berisi stoples kue-kue dikirim ke Jakarta. Dan memang, Kastengel. Nastar, Sagu Keju, semuanya enak. Azan Dzuhur belum berkumandang, tapi kami sudah menyerbu meja makan. Usai makan, kami sholat bersama di ruang keluarga. lalu berfoto-ria. Kolam renang, ternyata sudah menjadi kolam pemancingan ikan, dan ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin memancing ikan. Rumah sangat bersisi dan terawat. Foto keluarga besar yang tediri dari orangtua dan kakak beradik Mbak Emma tampak di ruang depan persis di pintu masuk.
Pukul 13.00 kami bersiap-siap menuju Selabinta sambil mampir ke Sentra Mochi "Lampion".Pilih-pilih mochi aneka rasa. tidak hanya original mochi, tapi ada juga yang rasa coklat dan rasa durian. Pilihan ini menjadi rebutan. dan memang enak sekali. Berasa banget coklat maupun duriannya. Perjalanan dilanjutkan menuju Selabintana Conference Resort. Sebenarnya waktu itu kami ingin memesan kamar disana, tapi pada tanggal yang kami inginkan tenyata sudah habis semua kamar. Selabintana terletak di Sukabumi Utara dengan pemandangan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Waktu tempuh kurang dari 30 menit dari Kota Sukabumi. Terdiri dari Bungalow, Villa dan Hotel. Beberapa bangungan tampak bangunan peninggalan jaman kolnial Belanda, yang berdiri tahun 1900. Kami cuma sebentar di Selabinta. Perjalanan dilanjutkan menuju Saung Abah , yang lokasinya tidak jauh dari Selabintana Resot, menikmati pemandangan hijau dedauan bambu, kami ngopi, meinum jahe dan menikmati kudapan Colenak, Pisang Goreng dan Durian yang ternyata pas ada di cafe tersebut. Serunya ngobrol, bercanda dan tertawa membuat suasana sangat menyenangkan dan akrab. Bila angkatan 84, baru reuni yang ke 30, maka angkatan mereka sudah lebih dari 3o tahun berteman, bahkan ada yang sudah 40 tahun berteman. terlihat diantara mereka sudah seperti bersaudara. Silaturahim kata Nabi dapat memperpanjang umur dan banyak rejeki. Mungkin hal itu terbukti dari persahabatan mas-mas dan mbak-mbak ini.. Sore hari kami "turun" menuju MaxOne Hotel untuk istirahat dan acara bebas. Hotel ini baru dengan disain pop art yang keren. Sebenarnya ini termasuk Hotel Budget, meski demikian bukan berarti murah, lumayan mahal juga. Satu kamar twin Rp 600.000. Untuk tambahan handuk, air panas untuk minum, dikenakan tambahan Rp 20.000. So far, hitelnya nyaman dan bersih. Hot Cholate dan Hazelnut Coffeenya. enaak banget.
Makan malam dilanjutkan dengan kuliner Bakso toge Jatirasa dan Martabak Sukabumi. Sebenarnya bukan kuliner yang penting, tapi kebersamaan dan keceriaan menjadi tujuan kami, selain bernostalgia di Rumah Mbak Emma. Sayang sekali, aku sendiri tidak mengalami masa-masa dimana kekompakan antar angkatan terjalin begitu kuat. Saat itu rasanya belajaar terus.. jarang main-main. Yah beginilah nasih anak kurang gaul.
Jakarta, 23 Desember 2014 Meita

How Lucky You Are


Mendapatkan kesempatan mengunjungi Sydney, Australia adalah suatu hal yang menyenangkan. Sydney adalah kota terbesar di Australia yang menjadi tujuan utama para imigran. Sebuah kota pelabuhan dengan pemandangan yang cantik, ditambah beraneka ragam penduduk multikultural yang mewarnai kehidupansehari-hari.

Kota ini terkenal dengan “landmark”-nya Opera House dan Sydney Harbor Bridge. Sangat menawan dan membuat bangga para penduduknya. Disamping itu Sydney memiliki pantai-pantai yang menawan. Yang paling terkenal adalah Pantai Bondi dengan butiran pasir berwarna kuning keemasan.

Sebuah kota, tidaklah lengkap tanpa pernak pernik. Bila yang senang jalan-jalan “cuci mata”, banyak toko, butik mode yang menggiurkan. Pertokoan atau pusat belanja di Queen Victoria Building merupakan salah satu daya tarik wisatawan bila berkunjung ke Sydney. Karenabangunannya sangat antik dan cantik. Gedung empat lantai yang diresmikan tahun 1898, memiliki lantai yang indah, tangga yang elegan,jam gantung yang bagus, dan kaca patri yang menawan. Berisi butik karya perancang lokal. Ada pula toko barang antik dan seni berkelas. Bila lelah berjalan-jalan, banyak tersedia café dan restoran dari yang biasa hingga yang menggugah selera. Hmm.. sedap.

Bila yang senang mengunjungi museum dan galeri, ada berbagai tempat disini yang menggugah keinginan kita untuk tahu lebih banyak tentang seni, budaya, sejarah, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ada pula took barang antik dan seni berkelas sepeti di Oxford Street. Tidak lengkap sebuah kota maju bila tidak menyediakan lahan terbuka yang luas.Ditengah kota ada Hyde Park dengan rumput bak lapangan hijau,burung-burung yang berterbangan dan berkeliaran di taman. Menyempatkan diri duduk-duduk dirumput sambil menulis sungguh menyenagkan.Disini, bisa dibilang, ‘bengong’ saja enak, he..he..

Satu hal yang terpenting dari sebuah kota, adalah sistem transportasi yang baik. Sungguh membuat kita takjub bila melihat kendaraan umum yang tertib dan teratur. Bus umum dengan kapasitas penumpang yang banyak, juga kereta dengan berbagai tujuan dengan jumlah gerbong yang banyak serta bertingkat, sehingga dapat menampung banyak penumpang. Juga ada Ferry dari pantai menuju kota dan ada pula monorail. Membuat masyarakat baik penduduk maupun turis dapat nyaman bepergian.

Namun, untuk naik turun bus dan kereta di Sydney, tidak mudah awalnya.
Apalagi bagi orang asing yang berasal dari negara dengan sistem
transportasi yang buruk. Bila naik bis, harus berangkat ditempat halte
tertentu, dan berhenti ditempat tertentu pula. Supir bus tidak akan
menaikkan dan menurunkan penumpang disembarang tempat. Disetiap halte,
ada peta rute bus, jam datang dan petunjuk lainnya. Para penumpangnya
pun tertib dan sopan, mendahulukan orang-orang tua untuk naik dan
memberikan tempat duduk. Pembayarannya dengan menggunakan kartu
prepaid yang banyak diperoleh di toko atau supermarket.

Untuk naik kereta, awalnya canggung. Namun harus berupaya untuk
dapat bepergian sendiri. Wilayah pinggir kota Sydney, seperti
Lakemba, Fair Field, Mt Druitt, banyak didiami oleh para penduduk asal
Indonesia. Sehingga beberapa kali harus naik kereta untuk
dapat kediamannya. Banyak jalur kereta atau line. Bila
hendak ketempat yang kita tuju, harus disimak baik-baik, nomor
platform tujuan kita. Jadi, begitu sampai stasiun, beli tiket, lalu
cari platform, yakni sebuah papan display yang berisi rute nama-nama
stasiun atau daerah yang dilewati dan jam kedatangan kereta. Setelah
itu, ikuti arah nomor platform dan silahkan menunggu kereta disana.

Kebingungan terjadi, ketika hendak ke Lakemba, dengan membawa banyak
barang bawaan. Ada tas dibahu, tas jinjing dan tas laptop. Maklum mau
bermalam di rumah kenalan. Menuju Stasiun di Town Hall. Lalu
menunggu kereta di Platform 6, sesuai tujuan. Tiba-tiba dihadapan, ada seorang bayi
lucu sekali dalam gendongan ibunya. Saya perhatikan terus, dia
tersenyum dan sesekali tertawa. Lalu, tibalah kereta dan bergegas
masuk kedalam kereta, naik tangga untuk dapat mencari tempat duduk diatas. Ketika kereta sudah berjalan, baru disadari, ternyata tas berisi laptop tidak ada. Rupanya tertinggal dikursi tunggu.

Kaget dan bingung, segera putuskan untuk turun di stasiun
berikut. Setelah turun, lalu menghubungi petugas setempat dan
mengatakan bahwa tas saya tertinggal. Lalu petugas tersebut mengajak keruangannya dan menanyakan ciri-ciri tas. Kemudian dia menghubungi rekannya di stasiun keberangkatan dan mengatakan agar menunggu sekitar 10 menit untuk pengecekan. Setelah menunggu, petuga tersebut menanyakan apa isi tas? Saya jawab, Laptop.
Lalu dia bilang, silahkan balik lagi ke Town Hall dan temui Manajer Stasiun. Ketika
saya memasuki ruangan, ternyata tas berisi laptop sudah berada disana. How lucky you are.. begitu kata petugas. Alhamdulillah.. sambil berseru senang dan mengucapkan terimakasih kepada petugas..

Seorang teman bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu ada kejadian,
dimana seorang nenek tertinggal uangnya di kereta saat pulang dari
menjemput cucunya. Sebelumnya ia mampir ke bank dan mengambil uang
sejumlah 50.000 dolar. Uang itu dimasukkan ke amplop dan ditaruh di
kotak makanan cucunya. Kotak tersebut tertinggal di kursi kereta.
Ternyata ditemukan oleh sorang pekerja pabrik. Dia kaget melihat uang
sebanyak itu. Pria itu bernama Ghazi Adra langsung menyerahkan uang
tersebut ke polisi. Dia bilang seberapapun banyaknya uang tersebut
tapi itu bukan milik saya. Sudah pasti si nenek gembira sekali
menemukan kembali uangnya. Kejadian ini mendapat sorotan dari publik.
Televisi Australia memberitakan cukup gencar. Dan Ghazi mendapatjulukan Australia’s most HonestMan.

Pernah juga seorang ibu kehilangan perhiasan pasangan anting berlian
miliknya, mungkin terjatuh di bus. Supir bis menemukan anting tersebut
dan menyerahkan ke polisi. Lagi-lagi si ibu mendapatkan keberuntangan.. tentu mereka juga mengatakan “how lucky you are..”
Kembali mengenang transportasi publik, berkesempatan mencoba naik bis antar kota dari Sydney ke Canberra pulang-pergi menggunakan Murrays Coach atau Greyhound. Busnya besar lengkap dengan toilet dibelakang. Berhubung jalanan lengggang, dan tidak ruwet, sangat nyaman menikmati pemandangan dilluar dari jendela, dimana sapi-sapi ternak bebas berkeliaran dipadang rumput hijau yang luas..

Jarak tempuh kira-kira 2,5 jam. Berangkat dari Central Station Sydney pukul 11 pagi, tiba di Terminal Jollimont Canberra pukul 13.30. Disini setiap penumpang bus harus mengenakan seat belt. Harga tiket pulang pergi 72 dollar. Menurut teman, bisa lebih murah bila memesan terlebih dahulu melalui internet. Akhirnya tiba di Canberra dan menikmati keindahan ibu kota Australia itu.

Sungguh senang ketika menjelajahi Gedung Parlemennya yang megah. Baik gedung baru maupun gedung lama, menyaksikan bagaimana demokrasi dijunjung tinggi di Australia, dan telah dilaksanakan selama kurun waktu 200 tahun. Juga ke museumnya, War Memorial House. Sebuah gedung yang berisi dokumen dan memorabilia tentang para perjuang dan pahlawan Australia. Sayang untuk dilewatkan. Dari kunjungan ke gedung dan museum, tentu saja menyempatkan berkunjung dan bersilaturahim dengan orang-orang Indonesia yang sudah lama bermukim di Canberra. Sungguh ramah dan baik hati mereka menerima kedatanganku.

Berkesempatan pula mampir ke Australia National University untuk menonton Film Indonesia yang sedang diputar saat itu Sunday Morning in The Victoria Park, sebuah film tentang buruh migran Indonesia di Hongkong yang dibintangi oleh Lola Amaria. Sempat juga bertemu Lola yang hadir saat itu untuk diskusi film dengan mahasiswa dan para penonton film. Dia mengisahkan bagaimana proses pembuatan film tersebut dengan lebih dahulu membuat survey tentang para tenaga kerja di Hongkong.

Kembali dari Canberra, menggunakan Murrays Coach, berangkat dari terminal Jollimont Pk 16. Tiba di Central Station Sydney, Pk 18.30 lalu menuju Maroebra, untuk kembali ke tempat menginap. Karena sudah malam, dan entah mengapa agak sepi saat itu, terus terang agak bingung harus menunggu di halte sebelah mana. Setelah bertanya-tanya.. akhirnya dapat menunggu bus nomor 393 di halte seberang dengan tujuan Maroebra.

Sambil menunggu bus, saya mencari “My Bus Card”. Sebuah kartu untuk membayar bus. Tinggal masukkan kartu ke mesin yang ada di bus, lalu kartu keluar dan langsung tercantum tanggal, jam dan nomor tujuan kita naik bus. Namun setelah beberapa waktu mencari-cari di tas, kartu bus tidak ditemukan.. sepertinya ada, tapi terselip dimana tidak tahu.. maklum waktu itu selain bawa koper kecil, tas laptop, juga tas tangan. Biasanya kartu bus, selalu ada di kantung dalam tas tangan. Tapi ternyata tidak ketemu.. Seorang wanita muda yang duduk dekat saya di halte menanyakan apa yang terjadi, mungkin melihat kegelisahan saya.. Lalu saya sampaikan bahwa kartu bus tidak berhasil ditemukan. Lalu dikatakannya, bahwa supir bus sering kesal bila kita bayar pakai uang, karena biasanya harus menyiapkan kembalian.

Untuk ke Maroebra, biasanya biayanya sekitar 3,5 dollar. Psarah.. bila nanti dimarahi supir bus. Segera saya siapkan uang receh.. ternyata hanya ada 2,5 dollar.. sisanya beberapa uang satu sen yang jumlahnya tidak genap 3,5 dollar. Hari sudah malam, dan terasa mulai dingin. Hampir 20 menit menunggu, lalu bus datang.. wanita muda yang menyapa saya memberikan uang sejumlah 2 dollar, katanya.. daripada kamu kena marah supir bus.. kasih saja 4 dollar, mudah-mudahan dia tidak repot menyiapkan kembalian..Oh baiknya wanita itu..sungguh saya berterimakasih. Sambil berdoa, lalu melangkah menuju pintu bus. Tiba-tiba, supir bus berdiri dari tempat duduknya dan menyapa serta mempersilahkan para penumpang masuk sambil tanggannya mengarah kedalam bus.. lalu apa yang dikatakannya, sungguh membuat hati ini ingin menangis.. “ Hi, How are you, it’s free now, card is not requiered !” wanita muda itu memandang saya sambil tertawa,.. dia mengatakan “How lucky you are..!” Dia juga kebingungan koq bisa tiba-tiba gratis, tidak perlu kartu atau uang..

Sungguh sangat tidak disangka..beruntung. Betapa hidup ini pas-pasan.. pas kita butuh pertolongan ada yang membantu.. pas kesulitan ada yang memberi kemudahan.. sungguh terima kasih Ya Allah,.. terimakasih juga untuk Clara, nama wanita muda yang akhirnya kami berkenalan, dia menolak dikembalikan uangnya. Kami berbincang-bincang sepanjang perjalanan dan sampai dia turun di Kingsford. Katanya. suatu hari dia akan berkunjung ke Jakarta..
Terima kasih Allah dan semua orang yang sudah berbaik hati memberikan pertemanan dan persahabatan yang penuh kehangatan selama disana..

Semoga Allah membalas kebaikan semuanya..
Jakarta, 24 April 2011
-Meita-

From Medan With Love

 
 
 
 
Silaturahim dan Napak Tilas

Seperti kata Presiden Obama, “Pulang kampung nih..” ternyata berlaku pula bagi Keluarga Abusamah Lubis. Rombongan sebanyak 26 orang merupakan anak, menantu, cucu dan kerabat dekat keluarga. Orangtua kami, Abusammah Lubis memiliki 7 orang putera-puteri, 16 cucu dan 4 cicit. Merencanakan pulang kampung serombongan, tidak mudah, hampir setahun untuk mewujudkannya. Menentukan waktu serta detil persiapannya harus dilakukan dengan seksama. Itupun tidak bisa komplet turut serta. Adik kami Erwin Budiman Lubis yang berdomisili di Perth, Australia tidak bisa turut serta karena isterinya baru melahirkan.

Inti pulang kampung adalah silaturahim. Disamping napak tilas perjuangan ayah, juga untuk mengetahui asal-usul sambil ziarah ke makam Nenek Halimatusya’adiah Harahap dan Kakek Banas Lubis Gelar Kari Ahmad di Pemakaman Mandailing di Medan. Ayah kami, Abusamah Lubis telah wafat tahun 1976. Ayah, seorang pejuang turut melawan penjajahan Belanda, bahkan pernah ditawan. Dalam kesempatan ke Brastagi, kami napak tilas mengunjungi Tugu Prasati, dimana tercantum nama ayah kami “Aboesamah Loebis” di nomor urut 5, yang merupakan Alumni Sekolah Opsir Kadet Berastagi Divisi Sumatera Utara. Di tugu prasasati tersebut tercantum tulisan “..bahwa di komplek ini dididik calon perwira (Kadet) Akmil Perjuangan 1945 Divisi IV Sumatera Utara”. Ayahanda dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ibunda kami, Anie Rahayu, sudah sangat sepuh, dan tidak memungkinkan untuk turut serta dalam perjalanan ini.

Namun kami, ingin melepas rindu kepada keluarga besar di Medan. Teringat di pengajian, seorang ustadz memberi nasehat: Pada suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasulullah orangtuaku sudah wafat, apakah aku bisa berbakti kepadanya setelah meninggal?” Nabi menjawab, “ya bisa, beristighfarlah untuk keduanya, dan menghubungi famili dari keduanya”. Pada kesempatan lain, nabi bersabda, “jangan putuskan hubungan dengan orang yang dulunya kawan baik keduaorangtuamu, (jika kamu berbuat demikian) pasti padamlah sinar cahayamu”. Disamping itu Al Qur’an mengajarkan kita agar memelihara Silaturahim “..dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan siltaruhaim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An Nisaa: 1). Sebuah Hadits mengatakan, bahwa “Siapa yang ingin dilapangkan rizqi dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menjalin silaturahim”.
 
Ayah kami pindah ke Jakarta tahun 1964 bersama ibu dan putera puterinya naik kapal laut yang bernama Bengawan. Kini, kami anak, menantu, keponakan dan cucu datang berkunjung. Tangis haru mewarnai pertemuan kami dengan keluarga besar di Medan, di kediaman Deni Panggabean yaitu anak sulung dari keluarga Amang Boru Raja Panggabean dan Bunde Halida Hanum Lubis, yang biasa kami panggil Bunde Ida didaerah Titi Kuning. Karena kesibukan dan berbagai hal lainnya, kami jarang bertemu. Maka ketika tiba pertemuan antara amang boru, nan tulang, ompung, bunde, kakak, abang, uwak dan cucu. Beberapa dari kami tidak bisa menahan air mata haru..

Ayah memiliki beberapa saudara, semuanya tinggal di Medan : 1. Siti Rapiah Lubis (Bunde Upik). 2. Nurmalia Lubis (Bunde Cicur) 3. Siti Hasnah Lubis. 4. Zahara Lubis 5. Alamsyah Lubis 6. Halida Hanum Lubis (Bunde Ida). Dari 6 bersaudara, yang masih tersisa adalah Bunde Cicur dan Bunde Ida. Yang lainnya sudah wafat. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya dan mengampuni semua kesalahan-kesalahannya.

Tentu saja kami saling bertukar cerita sambil menikmati makan siang yang lezat.. hmm.. lontong sayur komplet, dengan tahu tauco, rendang, gulai daun ubi tumbuk sangat menggugah selera. Bahkan kami sempat tambah beberapa kali.. terutama anak dan keponakan.. maklum.. selain lapar, juga jarang sekali menikmati lontong sayur yang lezat itu.. Acara perkenalan para anggota keluarga satu persatu dimulai.. untuk anak dan keponakan yang baru pertama kali bertemu, mungkin sulit untuk mengingatnya satu demi satu.. Tiba giliran Keluarga Abusammah Lubis memperkenalkan anggota keluarganya. Bang Iwan yang menyiapkan in-focus untuk presentasi berisi foto-foto keluarga. Satu demi satu memperkenalkan diri, mulai dari Anak tertua, Kak Inong, Bang Iyan, Bang Iwan, Adi, Cici, Bulan. Oh ya, hadir pula dalam rombongan kami, Ompung Rudi Lubis dan Wa Dede. Kerabat terdekat keluarga kami yang sudah seperti kakak bagi kami semua.

Yang bikin mengharu biru, ketika kami sama-sama menyanyikan Lagu Ayah, “..Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi...” hu..hu..air mata haru menetes lagi.. Suasana haru lalu berganti dengan keceriaan ketika kami sama-sama menyanyi dan menari dengan diiringi organ tunggal. Bang Herry puteranya almarhumah Bunde Zahara suaranya bagus sekali.. kita semua sampai terkesima mendengarnya.. Aduh serunya waktu ramai-ramai joget menari tor-tor.. eh ada yang dapat saweran loh.. he..he.. capeek nari.. ngobrol lagi.. lalu nyanyi, lalu makan lagi.. dan seterusnya... sampai malam hari kami baru pulang ke hotel tempat kami menginap.

Wisata Kuliner


Jalan-jalan, tidak bisa dipisahkan dari wiskul alias wisata kuliner. Dari awal sebelum berangkat, sudah ada yang “ngomporin” , katanya nanti kalau di restoran anu, kita pesan Ikan Bawal Steam, trus jangan lupa makan Sup Sumsum di Titi Bobrok. Katanya kalau belum ‘nyobain’ itu.. belum ke Medan. Oh ya, satu lagi.. tahu sendiri deh tidak afdol kalau tidak makan Durian. Medan tuh surganya Buah Durian. Dalam perjalanan menuju Brastagi, terlebih dahulu mampir beli Durian. Boleh makan sepuasnyaaaa... uenaaak banget. Belum lagi kue-kuenya, ada pasokan Bika Ambon, dan Bolu Gulung dari Mbak Kessy, terus juga ada Pancake Durian (hm.. Durian lagi.., tapi cuma dikit itupun dikasih Rangga). Lalu ada yang protes, dari anggota rombongan yang gak suka durian.. katanya dilarang bersendawa di bus.. yahh bagaimana ya ??

Ada juga yang gak puas karena tidak bisa cicipi Sup Sumsum Titi Bobrok. Ceritanya ada rombongan yang telat hadir (karena satu dan lain hal) dari Jakarta.. jadi ketika yang lain ke kedai sup.. dia ga ikut. Hanya tahu dan dengar kelezatannya dari sepupu-sepupunya.. Rencananya menjelang pulang ke Jakarta, dari Prapat mau mampir lagi kesana.. tapi ternyata Kedai Supnya tutup.. karena liburan tanggal merah, 1 Muharam. Jadi, pulangnya gigit jari.. he..he.. ya sutralah.. gak ada sup sum-sum, Restoran Padang pun jadi, yang penting ramai-ramai. Mejanya sampai puanjaaaang..

Jalan-jalan


Kalau ke Sumatera Utara, selain ke Kota Medan tidak lupa pergi ke Brastagi, Air Terjun Sipiso-piso, lalu tentu saja ke Prapat, tepi Danau Toba dan nyebrang ke Pulau Samosir. Di Medan, hotel tempat kami menginap, yakni Hotel Madani terletak tidak jauh dari Istana Maimun. Jadi pagi-pagi sekali kami menyempatkan diri jalan kaki menuju Istana Maimun. Tampak Kak Inong dan Bang Yassin berfoto ria disana, ibaratnya seperti anak muda yang sedang foto pra-wedding, asyik jepret sana- sini.. hi..hi..
Bangungan-bangunan tua banyak terdapat di Kota Medan, seperti Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Titi Gantung, Menara Air (ikon Kota Medan). Ruko-ruko sepanjang Jalan Kesawanan tampak antik dan cantik. Beberapa tampak masih terawat baik. Sepanjang perjalanan, Mas Iyan memberi penjelasan, bahwa disini dahulu tempat Kak Inong sekolah, kini sudah jadi ruko, lalu disebelah sana ada gedung tempat pesta dansa dansi.. Lalu disitu ada sekolahnya Yoga dan Ike. Keluarga Mas Iyan-Mbak Kessy pernah tinggal lebih dari 10 tahun di Kota Medan sewaktu Mas Iyan bertugas disana.

Di Brastagi, mampir ke Tugu Prasasti yang tercantum nama ayah disana. Sejenak kami berfoto-ria. Lalu mampir sebentar di Pasar Buah Brastagi. Membeli souvenir dan buah-buahan. Mas Adi membeli Jeruk Brastagi yang manis. Selain buah-buahan, Brastagi tampak cantik dengan bunga-bunga yang ada di pekarangan rumah. Di pasar-pasar juga dijual aneka bunga segar wana-warni nan cantik. Fikri membeli suvenir gantungan kunci untuk teman-temannya, Kak Inong dan Bang Yassin sepertinya membeli kaos “I Love Brastagi”, dan juga oleh-oleh untuk cucu. Yossi membeli celana “batik” bertuliskan Brastagi. Wah ternyata banyak juga yang belanja ya..

Dari Pasar Buah Brastagi, lalu Say Good Bye to Rizqa yang harus kembali ke Jakarta karena harus masuk pendidikan di Kosambi. Jadi dengan diantar supir dari kantornya Mas Iyan, Rizqa kembali ke Medan menuju Jakarta. Lalu perjalanan dilanjutkan menuju Air Terjun Sipiso-piso. Jarak tempuh dari Brastagi menuju Desa Togging Kecamatan Merek, sekitar 35 km. Pemandangan disana adalah Rumah Adat karo dengan dinding kayu, tali ijuk. Atapnya, ada yang pakai ijuk, juga ada yang pakai atap dari seng. Ada 5 Marga di Tanah Karo, yakni Karo-karo, Ginting, Perangin-angin, Tarigan dan Sembiring.

Tiba di Sipiso-piso, kami menikmati pemandangan yang sangat indah.. Danau Toba tampak terlihat dari atas bukit tempat kami berada dan air Terjun Sipiso-piso juga tampak dari ketinggian. Disini kami menikmati santap siang nasi kotak dengan menggelar tikar disana.. udara sejuk dan pemandangan indah, suasana persaudaraan yang hangat dan akrab.. sungguh sangat membahagiakan dihati. Untuk menikmati air terjun dari dekat, harus menuruni bukit dengan ratusan anak tangga yang terbuat dari semen. Awalnya, anak dan keponakan ingin turun ke air terjun, namun baru separuh perjalanan, mereka meyerah karena masih banyak anak tangga yang harus ditempuh, belum lagi pulangnya harus menanjak, terasa berat dan melelahkan. Disamping itu, waktunya tidak cukup.. karena kami harus segera berangkat ke Prapat.


Lake Toba, What A Wonderful Place.



Subhanallah.. indaaaah nian pemandangan disekitar Danau Toba. Dalam perjalanan menuju Prapat, jalan mendaki, naik, turun, berliku-liku, bahkan ada beberapa tikungan tajam, dengan lembah curam di tepinya. Memang seram.. tapi Alhamdulillah perjalanan lancar, dan jalanannya pun mulus. Bagi supir, harus fokus lihat jalan. Tapi bagi penumpang.. silahkan manjakan mata dengan melihat pemandangan Danau Toba dari jendela bis. Cantiiik sekallii.. Didalam bis semua anggota rombongan sampai berteriak-teriak kagum. (atau juga takut kalau lihat jurang curam dipinggir jalan hii..).
Danau Toba dengan Pulau Samosir ditengahnya adalah sebuah danau vulkanik, berasal dari letusan gunung berapi ribuan tahun yang lampau. Dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer.

Sekitar pukul 5 sore, rombongan tiba di penginapan. Alhamdulillah. Oh ya, rupanya keluarga besar Medan juga ingin turut serta bergabung dengan rombongan kami. Bunde Ida dan amang Boru, Bunde Cicur, Herry dan isteri serta anak-anak serta Hendry juga turut serta. Duh senangnya.. makin ramai rombongan kami.

Menari Tortor.

Pagi-pagi sekitar jam 7 kami sudah selesai sarapan, lalu menuju dermaga untuk naik kapal menuju Pulau Samosir. Tujuannya adalah Ambarita, Tuktuk dan Tomok. Di Ambalita, kami Menortor alias ikutan Tari Tortor dalam upaca penyambutan tamu. Seruu.. sekali.. kesempatan ini sangat menyenangkan. Excited ! bagaimana kami ikut menggerakkan tangan, mengayun-ayunkan tangan lalu menekukkan dengkul sampai kebawah dengan diiringi musik tradisional Batak, lalu berteriak Horas ! Horas ! Horas! Cici, Bulan, semua senang.. juga Mbak Kessy dan Yossi.. anak dan keponakan juga tertawa tertiwi. Kata Cici, ini sama aja olah raga loh.. cukup capek.. hampir 30 menitan menari Tortor lengkap dengan segala upacara yang dipandu oleh “Kepala Suku”, sungguh suatu acara yang sangat sangat menyenangkan.. Ambarita dahulunya adalah sebuah Kerajaaan, dengan Rajanya Siallagan. Disana terdapat rumah raja, rumah keluarga raja, dan beberapa tempat duduk dari batu berusia 500 tahun yang konon dahulunya digunakan untuk bersidang. Tidak jauh dari tempat tersebut juga terdapat tempat penyiksaan dan eksekusi orang-orang yang dianggap musuh atau bersalah. Ya Allah, mengerikan.. kanibal.

Dari Ambarita, naik kapal lagi, menuju Tuktuk, tepatnya ke Toledo Inn, untuk makan siang dan sholat disana. Lagi-lagi pemandangan disana sangat indah.. air danau di tepi Toledo Inn jernih, sehingga terlihat ikan kecil berenang-renang. Mas Adi sempat turun untuk snorkling, katanya airnya dingiiin. Fikri dan Rangga memainkan gitar Batak yang dibeli sewaktu di Ambarita. Lalu Yayat menyanyikan lagu Alusiao..yang ternyata bisa juga diiringi dengan Gitar Batak. Lah ternyata klop .. Terjadi ajang “pemaksaan”, ketika Bunde Ida dan Bunde Cicur dipaksa berfoto ria dengan menggunakan kaca mata hitam.. Juga Kak Inong, sampai pinjam kaca matanya Icha.. hi..hi.. lucu.. pertama, para bunde didaulat untuk foto bareng anak-anak laki, lalu menantu dan para cucu. Kata Bunde waktu foto bareng dan menantu, katanya kita ini inang-inang.. Oh ya? Maksudnya kita ini ibu-ibu kali ya.. Senang sekali melihat para bunde tertawa senang.

Dari Tuktuk, kami ke Tomok, disana ada Makam Raja Sidabutar yang merupakan raja pertama di Tomok, kurang lebih 200 tahun yang lalu. Namanya Raja Ompung Soribuntuan Sidabutar. Dari Makam Raja Sidabutar, lalu kami ke Sigale-gale, yang merupakan patung dari kayu yang bisa menari diiringi musik tradisional. Meski cukup menarik, namun tampaknya yang lain lebih senang jalan-jalan sambil beli oleh-oleh, terutama Ulos. Sedangkan yang lain lebih memilih terapung-apung di kapal sambil tiduran.. maklum.. pada bergadang semalaman..


Oh ya dalam perjalanan pulang menuju Prapat dari Tomok, kami dikasih kejutan dari rombongan Keluarga di Medan, yakni sekarung Durian.. jumlahnya gak tanggung-tanggun, 50 buah.. Jadilah kami pesta durian di kapal.. saling rebutan untuk mencari daging durian yang manis dan agak-agak pahit.. ah susahlah membayangkan bagaimana enakknya Durian Medan. Kalau ditanya Ratu Durian, sepertinya Mbak Iyut deh yang paling paling.. maksudnya paling gesit.. he..he.. (padahal sama aja denganku deh..) Mas Iyan juga, sampai rebutan sama Icha. Kata Icha, ”uwak-uwak.. bagi dong..”. Serunya makan Durian bila berebutan. Padahal masih banyak. Sisa durian lalu dibawa lagi untuk “cuci mulut” selesai makan malam.. jadilah kami pesta durian (lagi).. waduhh Lipitor, Prolipid, Omega 3, obat anti kembung, Norit laku diminum setelah Pesta Durian. Alhamdulillah, untung tidak ada yang mabok Durian...

Esok pagi, Pk 7 kami siap berangkat ke Medan, untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kata Mas Iyan dan Mas Iwan, rombongan kita memang disiplin, tidak pernah telat. Selalu tepat waktu. Ketika diminta kumpul di bus jam 7 pagi. Ternyata semua siap berada dalam bis, pk 7 kurang 5 menit. Dan langsung di absen satu persatu.. Lubis.. Luar Biasa. Alhamdulillah. Insya Allah persaudaraan dan hubungan keluarga kami berkah. Indahnya silaturahim. Barakallahu Fiihum.


Jakarta, 10 Desember 2010.
-meita-

Sightseeing from Melbourne

Australia










Salah satu indikator negara maju adalah kesejahteraan sosial yang memadai bagi warganya yakni antara lain jaminan pendidikan, jaminan kesehatan, kesempatan kerja serta kesetaraan sesama warga yang memiliki hak dan perlindungan hukum. Hal ini menempatkan Australia sebagai negara maju dengan mata uang yang terus meningkat menyaingi mata uang US Dollar. Berkenaan dengan kesetaraan, ketika Perdana Menteri Kevin Rudd terpilih menjadi PM Australia tahun 2008, secara resmi beliau memberikan pernyataan meminta maaf kepada “Generasi yang Terampas” atau “ Stolen Generations” atas nama pemerintah Australia.

Stolen Generations adalah istilah yang digunakan untuk anak-anak Aborigin dan penduduk Selat Torres yang diambil paksa dari keluarga mereka berdasarkan kebijakan pemerintah yang lalu. Permintaan maaf tersebut memperoleh dukungan penuh di parlemen. Dan pemerintah Australia menjanjikan dana sekitar 270 juta AUD untuk memperbaiki kesehatan, dan perkembangan anak-anak aborigin serta untuk biaya konseling agar generasi yang terampas menjalin hubungan kembali dengan orang-orang yang mereka cintai.


Yang menarik disini adalah permintaan maaf tersebut merupakan jembatan penting dalam membangun rasa hormat kepada penduduk pertama Australia dan sebuah lambang pemulih atas kesalahan-kesalahan dimasa lalu. Meminjam istilah Menteri Perumahan, Pelayanan Sosial dan Urusan Penduduk Asli Australia, Jenny Macklin, “a first step, necessary step to move forward from the past”.

Welcome to Melbourne
Wominjeka, artinya selamat datang. Bagi penduduk Aborigin tempat yang dikenal dengan nama Melbourne telah menjadi rumahnya sejak dahulu., kota ini menjadi tanah tempat tinggal turun temurun dari Keluarga Boonewurrung dan Woiwurrung. Setelah ditemukan tambang emas tahun 1851 menjadikan kota ini kota keberuntungan yang kaya raya sehingga para imigran dari negara koloni hijrah ke Melbourne. Kini Melbourne berkembang menjadi kota metropolitan dan ‘urban city’ dengan perkiraan populasi empat juta orang. Sebagai ibukota dari negara bagian Victoria, Melbourne menjadi kota nomor dua terbesar di Australia dan menjadi pusat seni budaya, pendidikan, perdagangan, hiburan, olah raga dan pariwisata.

Memasuki Kota Melbourne di akhir Bulan Oktober merupakan awal musim semi. Cuaca berkisar 9-20 derajat Celcius. Udara cukup sejuk, meski terkadang terasa dingin untuk yang terbiasa tinggal di daerah tropis.

Menghirup udara bersih, menatap langit biru, menapaki jalan-jalannya yang bersih, mengagumi bangunannya yang cantik, melihat rindangnya pepohonan, warna-warni bunga dan rerumputan hijau terhampar di taman serta menikmati hembusan udara sejuk nan alami, itulah keinginanku berkunjung ke Melbourne. Pernah sekali berkunjung kesini bersama suami, tapi itu sudah lama sekali. Alhamdulillah, kesempatan itu tiba ketika seorang teman dekat, Mbak Elly Winarno mengajakku menemaninya untuk menengok puteranya, Rendy Aditya yang sedang kuliah di Royal Melbourne Institute of Technology atau RMIT. Rendy mahasiswa Teknik Elektro, menjadi kebanggaan kita semua, sebagai mahasiswa asal Indonesia dengan raihan nilai atau prestasi dengan kategori terbaik, semoga mendapatkan Golden Key dengan kemudahan mendapatkan PR atau Permanent Resident. Amiin.


Kami tinggal di Apartemen Mantra on Russel, apartemen tempat Rendy tinggal. Terletak di downtown atau city, dengan lokasi strategis. Tidak perlu naik mobil untuk ke pusat perbelanjaan Myer atau David Jones, dekat dengan Federation Square dan Flinder Street Station. Bila dirasakan jauh, dapat naik trem ke tempat yang dituju dengan berjalan kaki sebentar ke arah Bourke Street. Ya, kota ini terkenal dengan tremnya, yang membuat para pejalan kaki mudah menjangkau tempat-tempat yang dituju. Beberapa tempat atau daerah seperti St Kilda atau Chapel Street bahkan terdapat lajur untuk pesepeda. Tak pelak kota ini mendapat julukan “World’s Most Livable City”. Kota yang tertib, teratur, indah dan nyaman. Bersama Mbak Elly, Yu Emmi, Rendy, Amanda dan Nia saya berkesempatan melihat keindahan Kota Melbourne, seperti mimpi rasanya..

Melbourne Icons.
Kesempatan saya yang pertama adalah mengunjungi tempat-tempat yang menjadi icon Melbourne, yakni Flinder Street Station yang letaknya tidak jauh dari Federation Square. Kebetulan saat itu sedang ada Festival Indonesia di Federation Square yang menampilkan tari-tarian, musik dan makanan khas Indonesia. Kami menuju kesana bersama Yu Emmi dengan diantar Amanda. Teringat sewaktu di pesawat, kami sempat satu rombongan dengan delegasi seni asal Makassar, katanya mereka sedang gencar mempromosikan Visit Makassar Year 2011 untuk warga Australia agar berkunjung ke Indonesia, khususnya Makasar. Kami lihat banyak pengunjung yang hadir, mereka memadati area panggung untuk menonton dari dekat tari-tarian dari berbagai wilayah di Indonesia. Yang ramai juga ada stan makanan. Beragam makanan asal daerah di Indonesia dijajakan disini. Ada Sate Padang, Soto, Bakwan, Bakso, dll. Yang antri sampai panjaang adalah stan makanan Palembang. Banyak yang ingin mencicipi Mpek-mpek Palembang. Amanda bersedia mengantri untuk mendapatkan semangkok mpek-mpek. Katanya dia sudah lama tidak makan ini. Amanda adalah karyawati, yang dahulunya juga kuliah di Melbourne.

Dari Federation Square, kami mengambil gambar Flinder Street Station, yang merupakan salah satu ikon Kota Melbourne. Bangunan ini merupakan stasiun kereta yang dibangun tahun 1910, yang merupakan pusat transportasi para warga Vicotria untuk bepergian dari dan keluar kota.












Selain Flinder Street Station, ada juga bangunan lama yang menjadi Icon Melbourne, yakni The Shrine of Remembrance yang didirikan untuk mengenang jasa perjuangan 114.000 Pahlawan Victoria pada masa Perang Dunia I. Dibangun tahun 1928 dan 1934.
Satu lagi bangunan terkenal di Melbourne adalah St Paul’s Cathedral yang dibangun tahun 1877 dan 1891.














A City of Gardens


Mengunjungi Melbourne, tidak lengkap bila tidak mengunjungi taman-tamannya yang indah. Public Area atau lahan terbuka cukup banyak, dengan pohon yang rindang dan taman-tamannya yang indah. Ada Royal Botanic Garden, Fitzroy Garden, Yarra Park, Treasury Garden, Carlton Garden, Flagstaff Garden dan masih banyak lagi taman-taman. Disini tamannya hijau, luas dengan bunga-bungan yang indah. Membuat Kota Melbourne terasa sejuk, karena bebas polusi. Sungguh, membuat sirik, iri, dengki saya sebagai warga Jakarta, maaf, maaf.. Jakarta semakin terasa tidak nyaman untuk tinggal, karena semakin sumpek dan padat. Ini curahan hatiku yang paling dalam sebagai warga kelahiran Kota Jakarta. Hu..hu.. hiks.

Royal Botanic Gardens ditemukan than 1846, sebuah taman dengan warisan botani dan landscape yang indah. Taman ini seluas 38 hektar terdiri dari 52.000 tanaman, dengan 10.000 berbagai spesies dari berbagai belahan dunia. Mengunjungi taman ini dikala musim semi sangat indah, banyak bunga warna warni bermekaran. Subhanallah. Terdapat pula beberapa danau didalamnya. Awalnya, taman ini dipimpin oleh Botanis, Baron F Von Mueller dan William Gilfolye. Selain taman, ada Garden Shop dan Café. Disini juga ada pendaftaran untuk kelas melukis bunga.. waduh senangnya yang ingin belajar melukis disini. Selain itu mereka juga memberi kesempatan bagi penduduk untuk mengenal Kebudayaan Aborigin melalui “Aborigin Heritage Walk”, dimana pengunjung dapat memahami kekayaan warisan lokal Boonwurrung dan Woiwurrung seperti tumbuhan atau tanaman yang mereka gunakan, baik untuk makanan, obat-obatan, peralatan, dan upacara.

Fitzroy Garden


Saya mengunjungi Fitzroy Garden, ditemani Mbak Elly. Awalnya kami ingin menuju Cook’s Cottage yang berada di Fitzroy Garden. Jalan kaki dari Mantra on Russel menuju Parliament House, melewati St Patrick’s Cathedral sebuah gereja dengan taman-taman bunganya yang indah. Kebetulan bertemu dengan dua orang pendeta yang menunjuki kami jalan menuju Cook’s Cottage. Mereka mempersilahkan kami masuk ke halaman gereja untuk lihat-lihat. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk foto-foto. Mbak Elly sangat terkesan dengan tamannya. Ada bunga yang mirip Sakura. “Apa itu Bunga Sakura ya? Cantik sekali bunga-bunganya”, kata Mbak Elly. Setelah berfoto ria, kami melanjutkan perjalan lagi. Meski jauh tapi tidak terasa lelah, mungkin karena pemandangan yang bagus dan udara yang sejuk. Akhirnya kami sampai di Fitzroy Garden, memang benar, tamannya indah. Pohon-pohon yang tinggi, rumput yang luas, bunga warna-warni tertata rapi.. hmm .. cantik banget. Mbak Elly teringat cucu-cucunya, katanya nanti kalau kesini pasti mereka lari-larian kesana kemari.













Cook’s Cottage. Adalah sebuah rumah mungil yang konon pernah ditempati oleh keluarga Captain Cook atau dikenal dengan nama James Cook (27 Oktober 1728–14 Februari 1779) adalah seorang penjelajah dan navigator Inggris. Ia mengadakan tiga perjalanan ke Samudra Pasifik, pernah mampir ke Batavia (Jakarta) dan berhasil menentukan garis-garis pantai utamanya. Cook adalah orang Eropa pertama yang mengunjungi Hawaii. Selain itu, dia juga merupakan orang Eropa kedua yang berhasil mencapai Selandia Baru (setelah Abel Tasman) dan berhasil memetakan seluruh garis pantainya. Didalam rumah mungilnya ini terdapat dapur, ruang tidur utama, ruang tidur anak-anaknya dengan perabotan dan perlengkapan rumah tangga yang antik. Para petugas atau tour guide mengenakan pakaian Old Voctorian. Sekitar rumah ditumbuhi tanaman perdu yang berbunga warna-warni. Juga disediakan pakaian kuno, yang bisa kita pakai untuk berfoto ria. Bagus banget suasananya disini. (Waktu membuat tulisan ini baru sadar, bahwa ternyata kami berkunjung kesini bertepatan dengan hari kelahiran James Cook). Dari rumah James Cook, kami mampir ke café yang juga didalam taman Fitzroy. Minum segelas cokelat hangat, dengan Carrot Cupcake sambil menikmati pemandangan taman yang indah, sungguh luar biasa rasanya.. Subhanallah..

Carlton Gardens


Seperti taman-taman lainnya, tentu saja banyak pohon rindang dan padang rumput yang hijau. Namun disini terdapat air mancur yang cantik. Dan terisitimewanya lagi ada Gedung Royal Exhibition dan Melbourne Museum. Saat itu sedang degelar pameran mobil-mobil kuno di Royal Exhibition. Keren banget. Dengan “juru foto” Rendy dan Amanda”, kami semangat sekali berfoto ria di taman ini..



Out and About In Melbourne

Banyak yang bisa dikerjakan di Melbourne, bagi yang suka shopping, disini tempatnya. Berbagai butik, dan department store tampak terlihat megah dan indah. Berkeliling ke city untuk melihat-lihat alias cuci mata juga menyenangkan. Ada Mall yang besar dan terkenal seperti Myer dan David Jones, ada supermarket Big WW, ada Target, Cotton-in, Reject Shop, Priceline (kosmetik), IKEA (Furniture) sampai ke perlengkapan bumbu-bumbu masak khas juga ada, seperti beberapa toko Asian Grocery. Kami sempat beberapa kali ke Laguna yang menjual bumbu-bumbu masak khas Indonesia. Yu Emmi memang pintar masak. Selama di Melbourne, kami senantiasa disediakan makanan yang enak-enak. Pagi hari, nasi goreng atau mie jawa atau sambal ikan peda dengan nasi panas, hmm lezaat. Siang hari soto, empal daging, bakwan jagung, perkedel, Tumis Kangkung, dll .. semuanya sedap. Top banget deh. Terimakasih Yu Emmy.


Mau belanja sayuran atau daging serta souvenir yang bagus dan murah, silahkan kunjungi Queen Victoria Market, sebuah pasar tradisonal yang bersih dan apik. Dengan membawa trolly dari rumah, naik trem sekitar 10 menit, tibalah kami di Vic Mark. Kami sempat beerbelanja keperluan memasak untuk beberapa hari kedepan. Kesempatan tersebut saya manfaatkan juga untuk membeli beberapa kaos dan souvenir khas Melbourne. Ada beberapa orang Indonesia yang berjualan kaos dan cendera mata . Kami sempat bertemu dengan seorang wanita Indonesia yang berjualan kaos. Suaminya sedang kuliah disana untuk mengambil gelar PhD.

Kalau mau lihat-lihat “The Bold and Beautiful”, coba deh jalan-jalan ke Chapel St Precinct. Bersama Mbak Elly dan Yu Emmi, kami naik Trem nomor 8 (kalau tidak salah) dari Swanston Street kurang lebih 20 menit tiba di Chapel. Disini tempatnya anak muda hang-out. Pertokoannya terdiri dari butik-butik kelas mewah produk asli Australia (Australia Branded). Keren banget, Mbak Elly bilang kalau mau lihat orang Australia bergaya, lihat deh disini.. mereka benar-benar cantik dan modis. Disini tempatnya anak-anak muda gaul.. seperti Kemangnya Jakarta. Wow, the good things in life.. fashion, food, entertainment and style. Chapel Street merupakan satu dari “Melbourne’s premier shopping and entertainment strips” dengan lebih dari 980 toko atau butik, cafés, restoran, bar, pub dan nightclub. Daerah ini terkenal dengan sebutan Melbourne’s fashion and style capital. Lelah putar-putar, lalu kami makan di Restoran Jepang, yang kata Mbak Elly enak banget.. dan ternyata memang sedaaap. Thanks a lot mbak..

Yarra River

Tidak saja taman-taman yang indah, Melbourne memiliki Yarra River, sungai yang melewati kota dan taman, membentang dari Docklands melewati Federation Square, Royal Botanic Garden, Citilink dan seterusnya..sampai jauh.. Menuju Yarra River, kami telebih dahulu melewati Flinder Street Station. Dari samping stasiun, ada tangga lalu turun menuju Southgate. Dari sana kami menyeberangi jembatan. Tampak di sungai beberapa orang naik kano. Bila ada yang ingin naik cruise, disini tempatnya ‘departure point’ Melbourne River Cruises. Melihat-lihat pemandangan sekitar sungai senja hari, sambil menikmati secungkup es krim.. hmm sungguh nikmat.

Southgate terletak di kawasan South bank of the Yarra, daerah ini merupakan tempat yang menyenangkan untuk makan dan bersantai, dari restoran eksklusif hingga Wharf Food Market. Ada kompleks hiburan yang terkenal, Crown. Disini tempatnya casino. Menikmati pemandangan senja ditepi sungai hingga malam hari disini sangat indah.. lampu-lampu dari gedung-gedung berkelap kelip seperti permata.. benar-benar indah. This is a must-visit place.





Wildlife viewing – Phillip Island



Hal yang menakjubkan bagi saya adalah ketika berkunjung ke Philip Island untuk menyaksikan kehidupan binantang mungil, Burung Pinguin yang senantiasa mengikuti ritual rutinnya mengunjungi Phillip Island yang konon datang dari Kutub Selatan.


Bersama Yu Emmi, saya mengikuti paket tour. Perjalanan dari Melbourne ke Phillip Island, kurang lebih 90 menit. Dalam perjalanan tersebut, kami mampir ke peternakan “Warook Cattle Farm”, menikmati suguhan ‘high tea’ berupa teh/kopi dan muffin. Disana terdapat burung dan binatang ternak seperti kuda, domba, sapi, juga ada kanguru, wombats dan lainnya. Rumah peternakan untuk rehat minum teh, sangat apik dengan bunga-bunga indah dihalaman belakangnya. Tidak mau rugi, kami pun mengambil gambar disekitar rumah tersebut. Maklum, kami pencinta bunga..















Dari Warrock Cattle Farm, kami mampir ke pabrik coklat Panny’s. Menikmati tester coklat yang menurutku sangat sedikit.. (habis suka banget coklat). Dan memang coklat disini rasanya seperti Coklat Belgia. Enak deh..

Setelah itu kami mampir ke Koala Conservation. Menyaksikan dari dekat Koala yang bergelantungan di pohon, menikmati hutan dimana Koala tinggal. Habitat Koala adalah di pepohonan Eukaliptus. Meski terlihat lucu, sebenarnya Koala adalah hewan yang “powerful”, dia bisa menggigit dan mencakar untuk melindungi dirinya. Hewan ini sangat dilindungi oleh Pemerintah Australia. Selain Kanguru, Koala termasuk Ikon binantang Australia.




Tibalah kami di lokasi pengintaian Pinguin. Waktu menunjukkan pukul 7.30 malam. Biasanya penguin tiba di tepi pantai dari perjalanannya sekitar pukul 9 malam. Kami menanti di tempat pengintain. Benar saja, mereka datang berkelompok, lucunya mereka jalan berbaris, seperti berparade. Binatang ini kecil mungil dan menggemaskan. Rupanya penguin disini memang kecil mungil. Kalau di Afrika Selatan, mereka besar-besar, bahkan ada yang setinggi meja makan. Sejak tahun 1920, para pengunjung sering menyaksikan parade Pinguin, kini kabarnya sebanyak 500.000 pengunjung sudah datang ke tempat ini.

Ada kejadian lucu, ketika kami hendak membuka bekal makanan ditempat pemantauan, burung-burung laut datang mendekati kami. Yu Emmi sebenarnya membawa bekal makanan nasi dan lauk pauk, tapi sepertinya kurang memungkinkan kami makan nasi disana. Kebetulan sempat membeli pizza di Nobbies, lalu ketika hendak melahap Pizza, karuan burung-burung tersebut hendak mencaplok makanan kami.. akhirnya batal acara makan pizza. Sang burung yang gagal mencaplok pizza membuang kotorannya di jaket Yu Emmy. Haaa… mungkin sang burung kesal,, he..he.. Begitu pula ketika seorang pemuda sedang memakan roti, tak pelak roti itupun disambar burung. Pesan moralnya disini adalah, harap perhatikan penguin baik-baik, jangan disambi dengan makan makanan. He..he..

Perjalanan ke Philip Island membutuhkan waktu seharian. Berangkat dijemput dari tempat kami di Mantra on Russel pk 12.55. Tiba kembali di rumah Pk 11 malam. Harga paket tour ini $105. Bis besar dengan toilet didalam. Sebenarnya ada paket yang lebih murah, sekitar $72, bis lebih kecil, namun tour guide berbahasa Mandarin, dan tidak mendapatkan paket minum teh, tidak diantar/dijemput ditempat. Melainkan kumpul di tempat travel biro. Oh y jangan lupa membawa baju penahan dingin. Karena udara disini dingin sekali.
------

Banyak lokasi bagus nan indah di Melbourne. Ada St Kilda Beach, Hutan Dandenong, Yarra Valley, Sovereign Hill dan Historic Ballarat, Great Ocean Road, serta tempat-tempat indah lainnya.. Mudah-mudahan lain kesempatan saya bisa ceritakan disini.


Terima kasih untuk yang sudah berbaik hati memberi berbagai fasilitas dan kemudahan:
Ibu Elly Winarno, Rendy Aditya Winarno, Yu Emmy Yassin, Amanda dan Nia.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan semuanya.. Mohon maaf bila ada kesalahan.



31 Oktober 2010.
-Meita-

Melbourne

Eat Pray Love @ Kuningan, Cirebon

Sebuah film drama romantis yang diperankan oleh Julia Robert berjudul Eat Pray and Love mengisahkan kehidupan Liz Gilbert seorang wanita yang menyadari perkawinannya tidak bahagia, lalu memutuskan untuk bercerai. Namun perceraian itu terasa menyakitkan bagi dirinya dan memutuskan untuk mencari kebahagiaan dan kedamaian dengan pergi keliling dunia yakni ke Itali, India dan akhirnya menemukan cintanya di Bali. Di Itali ia menemukan beragam makanan yang sangat menarik, di India ia menemukan kedamaian di hati, dan di Bali, Liz menemukan cinta sejatinya.

Namun, tak perlu harus mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu yang dapat menenangkan hati dan pikiran. Tak perlu repot-repot dan melakukan perjalanan jauh ke Eropa atau India.. cukup melakukan perjalanan dan liburan bareng bersama teman-teman ke Kuningan, Cirebon. Disana ada Spa yang berasal dari sumber air panas Gunung Ciremai, serta pemandangan yang indah. Dan lebih menyenangkan lagi bila bepergian bersama teman-teman SMA.

Pukul 05.30 sudah siap di stasiun Gambir untuk naik Kereta Argojati. Tidak disangka bisa terkumpul hampir 60 orang untuk ikut jalan-jalan ini. Semua antusias dan bersemangat menikmati acara ini. Satu persatu bermunculan di stasiun dengan wajah cerah ceria, tegur sapa dan gelak tawa menambah riuh suasana..

EAT



Di stasiun, Doni sudah menyiapkan sarapan nasi kotak untuk semua peserta. Setelah masuk kereta, satu gerbong penuh untuk rombongan kami. Nasi dibagikan satu per satu.. berhubung sudah lapar dan belum sarapan, begitu kereta berangkat pukul 06.00. Langsung disantap nasi beserta lauknya telur dadar, tempe, sayur hmm enak deh. Telur dadarnya tuh gak seperti biasa, diberi bumbu-bumbu.. yang rasanya sedaap. Kalau mau lontong juga ada. Lontong isi atau biasa disebut Arem-arem, didalamnya berisi tumisan daging cincang, wortel dan kentang.. lalu ada ranjaunya cabe rawit. Tira bawa Macaroni Schotell yang berasa banget kejunya. Sedaap.. Top deh rasanya. Belum selesai sarapan, Diah Zulfah membagikan kantong untuk sampah.. menyelipkan pesan agar jangan buang sampah sembarangan, lalu gak lama kemudian di balik lagi menawarkan cemilan, ada kacang, keripik, permen, dan lain-lain. Komplit deh.



Kalau jalan-jalan begini memang tepat sembari menikmati kudapan lokal daerah setempat. Kuliner asal Cirebon, apalagi kalau bukan Empal Gentong, Nasi Jamblang, Nasi Lengko semua disajikan, baik pada saat sarapan di Hotel Grage Sangkan, maupun ketika dijamu dirumah Komandan Pangkalan Angkatan Laut, Mas Deni. Kudapannya, terutama ketan, dibungkus daun pisang semula tidak begitu menarik, tapi kata Diah, ketannya sangat sangat sangat enak. Setelah dicoba, ternyata benar-benar enak.. ketan bertabur bumbu kedelai manis dan pedas.. tidak cukup satu, ternyata 2 bungkus. Bahkan ada yang diam-diam masukin beberapa buah ke dalam tas. Katanya mau dimakan nanti. Selain itu, Nasi Lengko ala Pak Komandan memang enak, ada sate kambingnya pula.. hm.. yummi.

Acara makan malam di hotel, berlangsung dengan meriah, panganan ikan dan udang serta salad dan sop kepiting sangat menggiurkan selera. Semuanya makan dengan “khusuyu” terutama Adri. Bila yang lain sudah selesai makan, dan mulai bernyanyi dan tertawa-tawa, namun Adri tetap “tawadhu dan tumaninah” dengan makanannya.. tak peduli yang lain sorak sorai.. Adri tetap menyantap makanannya dengan sakinah, maksudnya tenang.. Tapi memang acara malam itu seru sekali, apalagi Vidi yang membawakannya. Sampai pegal tertawa.. tidak ada habis-habisnya bahan lelucon, semua tertawa. Ada sumbangan lagu dari Yadi, yang heboh membawakan lagunya Giring Nidji, lalu Dewi yang membawakan lagu Cintaku-Chrisye, terus ada Bunga yang spesial membawakan lagu-lagu Batak, sampai pada ikutan menari Tor-tor. Selain nyanyian, juga ada games beberapa kelompok. Semua ikut bermain.. serrruuuu deh. Tapi semuanya dapat hadiah, baik yang kalah maupun menang.. keluar ruang menenteng hadiah. Ada yang dapat kaos, payung, pisau lipat victorinox, perlengkapan rumah tangga, handuk dll. Hebat, hebat.. Alhamdulillah, terimakasih Chandra atas hadiah-hadiahya..


PRAY



Sewaktu tiba di Cirebon, rombongan langsung ke pusat batik di Kawasan Trusmi. Pilih sana pilih sini. Bagus-bagus. Ciri khas Batik Cirebon adalah Mega Mendung dan Kompeni. Warna-warnanya bagus-bagus.. waktu satu jam dirasakan kurang, lalu ditambah setengah jam lagi untuk memilah dan milih batik-batik yang akan dibeli. Doni membeli kemeja batik, dan langsung dipakai saat itu juga sehabis dicoba, katanya adem. Tosan membelikan batik untuk isteri tercinta, katanya cari kain batik yang warna dasarnya putih, tapi coraknya biru.. akhirnya dapat juga kain batik pilihannya.. Mira beli 8 kain batik dengan warna-warna lembut, katanya kalau pilih batik, cari warna yang netral atau lembut supaya terkesan mahal. Wah klo gitu pilihanku salah ya? motif Mega Mendung warna gonjreng shocking pink, he..he.. tapi saya lihat warna itu cuma satu-satunya di toko tersebut.. cantik juga..



Dari batik Trusmi terus ke kerajian Kerang. Yang ini benar-benar bagus dan wah. Mewah kesannya. Produk lokal kwalitas impor. Ada furniture, meja, kursi lemari, lampu dan perlengkapan rumah tangga lainnya seperti baki, tempat minum, asbak. Foto-foto didalam toko tidak lupa.. maklum gak sanggup beli perabotan ya udah deh mejeng aja dekat barangnya.. Tapi lumayan laku.. Ika dan Mira menyerbu perlalatan rumah tangga, seperti taplak meja kerang, dan baki. Ira, Fetty, Tira dll menyerbu asesoris berupa gelang. Tampak Mitta yang tidak kebagian beli asesoris.. gelang yang ditaksir, sudah keduluan dibeli Ira, lalu kalung yang ditaksir dibeli anaknya Bunga.. "ya udah deh gue ngalah aja.. masa mau rebutan sama anaknya Bunga.. he..he..", begitu katanya.

Dari sana mampir ke Cibulan, tempat pemandian umum bareng dengan ikan, yang dijuluki Ikan Dewa. Dibelakangnya ada kawasan sumber air 7 sumur. Konon siapa yang cuci muka di sana bisa awet muda.. halah.. (?) Iseng-iseng kesana, bersama Doni, Ando, dll lalu nyobain airnya.. wuiih segerr.. Lalu ada Kabul, katanya hati-hati loh. Iya, tenang saja, gak mungkin kita menggadaikan aqidah, tadi cuma numpang cuci muka aja koq, tida ada niatan lain, jawabku. “Oh syukurlah”, kata Kabul.

Tiba di Grage Sangkan Hotel SPA sekitar Pk 15.00. Karuan, yang pertama dituju adalah SPA. SPA adalah Soluse Per Aqua atau Sante Per Aqua yang berasal dari Bahasa Latin, artinya sehat dengan air. Habis lelah jalan-jalan, memang paling enak kalau SPA. Bisa relaks sambil berendam di air hangat, 36 derajat Celcius, yang bersumber dari Mata Air Gunung Ciremai. Seperti Liz Gilbert yang meditasi, disini kita juga “meditasi”, nikmat sekali berendam di Hot Spring Water Ciremai sebuah kolam besar dengan beberapa titik pijatan.

Ikutan seperti Julia Robert.. eh Liz Gilbert yang meditasi di Bali, kita juga meditasi disini sambil mengingat Allah Sang Pencipta. Menurut Deepak Chopra dalam bukunya “Quantum Healing” .. The Mind and Body are Parallel Universe, anything that happen in the mental universe, must leave track in the physical One.. artinya kurang lebih bila ada gangguan mental akan menyebabkan juga gangguan pada raga. Selain untuk relaksasi, juga ada fasilitas untuk kecantikan. Jadi sehabis spa, langsung lanjut Body Scrub dengan Green Tea. Keluar dari ruang spa langsung segaaarr rasanya.

Berdoa dan sholat alias Pray, senantiasa ada dalam perjalanan ini. Alhamdulillah ada Razwan yang biasa dipanggil Ijal senantiasa memimpin kami untuk beroda bersama, dari berangkat, pulang saat makan malam bersama.. Berdoa untuk kita semua, juga untuk teman-teman yang sudah berbaik hati menyelenggarakan acara ini. Ivan, Chandra, Harip, Didin, dan teman-teman semua.. Doa untuk kita bersama. Kabul pun senantiasa mendoakan kita. Sepertinya dia memang menyiapkan waktu khusus jam 3 pagi pasang weker.. untuk sholat dan berdoa.. semoga doa Kabul terkabul. Amiin.



LOVE







Ika dan Yadi, Mungky dan Carinta, Bunga dan Leonita, Yayu dan Ijal

Ada cinta disini.. cinta pada Allah SWT yang telah menganugerahkan begitu banyak kenikmatan. Pemandangan yang indah, suasana yang sejuk dan segar di kaki Gunung Ciremai. Persahabatan yang indah. Rasa sayang dengan teman, ada rasa kebersamaan, ada keceriaan, ada canda tawa..

Di Kereta, Mungky berkisah tentang pernikahan yang sudah 25 tahun.. ada suka dan duka, katanya kesuksesan seorang suami terutama berkat doa sang isteri. Lalu Mira menambahkan bahwa kunci syurga adalah ketika kita mendapatkan Ridhonya Allah melalui Ridhonya suami. Alhamdulillah suamiku baiiikk banget, begitu katanya. Ada pasangan sejak SMA: Bunga dan Leonita, ada Yayu dan Ijal, ada Yadi dan Ika, ada Mungky dan Carinta yang sejak SMA berpacaran hingga kini tetap awet wet sebagai pasangan suami isteri. Tapi ada juga yang cintanya tertinggal di Cirebon.. aduuh.. siapa ya?































Alhamdulillah acara jalan-jalan bisa berlangsung dengan baik dan lancar. Semua senang semua bahagia. Terima kasih untuk yang sudah memfasilitasi acara ini, terutama Octavian yang telah memberikan akomodasi dan transportasi serta penyambutan di rumah Lanal Cirebon, juga Chandra Tirta Wijaya yang sudah memberikan kita hadiah-hadiah serta paket oleh-oleh yang lengkap serta kemudahan lainnya yang tak bisa disebutkan disini satu-satu. Panitya dan yang bersibuk-sibuk : Hari Prasetya, Didien Moerdiono, Vidi Soeprastowo, Agus, dan pantiya lainnya.. Semuanya saling mendukung dan menguatkan. Kompak. Insya Allah berkah. Seperti kata Ketut Liyer dalam Eat Pray Love, “ See you later Alligator”..









Jakarta, 19 Oktober 2010.
Salam,
Meita