Yogya Trip 5-7 Februari 2010




It’s all about.....

Ke Yogya? mungkin ada yang sudah beberapa kali kesana.. Siapa yang gak kenal Malioboro, Candi Borobudur dan Prambanan, Kerajian Perak, Keramik Kasongan, juga makanan Khasnya Gudeg, Pecel, Bakpia dll.

Ingin sesuatu yang lain? Nah kalau ingin sesuatu yang lain dari Yogya, Nikmati suasana alam pedesaannya.. Dalam kesempatan kali ini kami ingin menikmati suasana desa dan mencicipi jamuan makan ala Kraton Yogya. Sebenarnya tidak hanya ke Yogya, tapi mampir juga ke Solo, ngopi-ngopi di “Rumah Koe” sambil ‘Tour de Kampoong’ yakni Kampung Batik.

Berangkat pagi-pagi sekali setelah Subuh, pukul 6.15 sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Bareng Mbak Bunga dan Hetty, begitu tiba sudah ada Mas Anto, Mbak Sari, Mas Budi, Mbak Tuti, Mbak Susi, Mbak Taty, Mas Ikrar, Yayak, Mas Pinckey, Mbak Lucy, Bang Thalib, Mas Hang. hampir komplit, tinggal satu orang lagi yang belum datang, Mbak Tiara. Tapi untung belum telat. Jumlah rombongan 16 orang, benar-benar menyenangkan bisa kumpul sekian banyak teman padahal kebanyakan dari mereka orang-orang sibuk.. Pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi berangkat Pk 7.45. Alhamdulillah tepat waktu. Setelah menempuh perjalan selama kurang lebih satu jam, tibalah kami di Bandara Adi Sucipto Yogya.










Dari Bandara, rombongan dibagi 2 mobil, dan langsung meluncur ke arah Bantul, tepatnya ke Rumah Tembi yang terletak di Dusun Tembi, Jalan Parangtritis. Kurang lebih setengah jam, kami tiba di kawasan tersebut, dimana jalan kiri-kanan dipenuhi sawah-sawah.. pemandangan yang menyejukkan mata. Tiba di Rumah Tembi kami diberi Wellcome Drink, Teh Secang, lalu dipersilahkan menikmati sarapan pagi.



Rupanya penginapan ini bukan seperti hotel, tapi semacam “cottage” yang berbentuk Rumah Joglo atau Limasan Jawa yang terbuat dari kayu jati, buatan tahun 1940an. Ada 9 rumah, dengan 5 Rumah Limasan jawa, sedangkan lainnya rumah baru dengan arsitektur Rumah Jawa. Pemandangannya alami. Rumah kami (aku, Hetty, Mbak Lucy dan Mbak Tiara) bernama Ngadirejo menghadap kolam renang dan sawah, begitu juga Rumah Polaman dan Rumah Morangan. Tiga rumah yang kami sewa ini menghadap ke sawah dan kolam renang plus whirl pool serta memiliki kamar mandi yang alami. Enaknya nginap disini, dapat makan 3 kali, terus bisa leyeh-leyeh.. santai. Kata Mas Budi, “disini enak ya.. ngelamun aja enak, he..he..”

Selesai sarapan dan istirahat sebentar, rombongan melanjutkan perjalanan ke Keramik Kasongan, para ibu di drop untuk melihat-lihat kerajinan cantik gerabah, ada vas, pot , perlengkapan memasak dan tempat lampu, semuanya cantik. sedangkan para bapak pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Setelah sholat Jumat, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Solo. Dipertengahan jalan, kami mampir di Rumah Makan Mbok Berek Pertama untuk makan siang. Sedangkan para ibu-ibu sholat di mesjid “Kremlin” (maaf lupa namanya) yang terletak persis disebelahnya. Setelah itu kami mampir beli Srabi Notokusuman. Muter-muter cari srabi sampai pusing.. he.. he.. habis nyasar terus, rupanya supir gak hafal jalan-jalan di Kota Solo.




Tiba di Solo, langsung ke Rumah Koe, disambut Mbak Nina Akbar Tanjung sang empunya rumah. Suanasa sejuk terasa disini, rumahnya adem. Penginapan ini berkonsep “Heritage Hotel” dengan design “Javanese Traditional Architecture” yang dipadukan dengan Art Deco Style. Mbak Nina senang sekali dengan kedatangan kami.. “ Ini teman-teman kuliahku..!” katanya kepada karyawannya. Mbak Nina juga alumni FISIP UI, Hetty pernah kuliah bareng dengan Mbak Nina. Selain ada Restauran, juga ada Salon perawatan, dan bisa belajar membatik disini.










Dari “Rumah Koe” ternyata bisa menuju kampung batik lewat pintu belakang.. menelusuri rumah-rumah dan gang-gang yang bersih, meski kampung tapi tidak seperti perkampungan di kota Jakarta (maaf). Disini bersih dan apik, mungkin bisa dijadikan contoh perkampungan di kota lain di negeri kita. Ketika mampir di rumah pengrajin, sempat membeli blus batik, sedangkan Hetty, kebetulan lagi mau bikin pagelaran tari, dan perlu banyak kain.. jadi dia sempat beli beberapa kain batik.. “wah kesempatan..” katanya. Lelah menelusuri kampung batik, lalu kami ngopi-ngopi disini.. dari sore hingga menjelang malam. Bercanda tertawa.. seru sekali, ada kejadian heboh, “peristiwa berdarah”.. saking serunya bercerita, Bang Thalib sampai terjungkal dari kursinya, sehingga lengannya bedarah kena kaki kursi. Tapi kejadian itu gak bikin kapok.. terus aja bercerita yang lucu-lucu.. he..he..









Balik dari Solo menuju Tembi, Yogya. Rupanya semuanya pada senang nyanyi.. di mobil yang satu, Mas Ikrar yang banyak nyanyi dan Bang Thalib yang banyak cerita. Kalau di mobil satunya lagi, udah seperti paduan suara kocar-kacir.. semuanya nyanyi, kecuali Mbak Susi dan Mbak Lucy. Mereka “inner journey” alias tidur. Yang lain menyanyi gak karu-karuan, saling menimpali, mulai lagunya Beatles, Beegees, Scorpion, Chaseiro, Queen, PSP, Java Jive, Padi, Chrisye, Katon dan lagu jadul mendayu-dayu ala Endang Estaurina, Betaria Sonatha dan Obbie Messakh. Kehabisan ide.. sampai nyanyi lagu-lagu waktu di plonco. Mas Anto cerita, lagu-lagu masa plonco itu, adalah lagu-lagu plesetan yang sering dibawa Kasino dan Indro. Aku juga sempat nyanyikan lagu itu kog, angkatanku, ’84 waktu opspek pernah disuruh nyanyi lagu.. yang syairnya agak ‘jorke..’ he..he.. yang hafal Hetty terutama Mas Anto tuh.



Pagi hari di Tembi, wow keren.. gak tahan lihat kolam renang, pk 05.30 langsung menceburkan diri. Airnya hangat, udaranya sejuk. Subhanallah.. Yang lain memilih putar-putar keliling desa naik sepeda. Sebagian yang lain pilih duduk-duduk dan ada juga yang tidur.. he..he. Sarapannya nasi goreng. Oh ya ada yang spesial disini, yakni minuman tradisional Wedang Uwuh, yang komposisinya terdiri dari jahe, secang, cengkeh (bunga, daun, batang), kayu manis (daun, batang), sereh dan gula batu. Diminum panas-panas. Racikan daun, batang dan bunga itu, penuh seperti sampah di gelas, jadi dinamakan minuman sampah (uwuh). Semuanya suka.. sampai waktu pulang pada rebuatan bawa racikan minuman tersebut, hingga tida tersisa di Rumah Tembi. Bahkan pada pesan untuk dikirim ke Jakarta.




Pukul 11, menuju Yogya untuk menikmati jamuan makan siang ala Kraton Yogya, untuk itu kami bersiap-siap bawa kebaya polos, sedangkan kain, beskap, dan blangkon disewakan disana... Memang sengaja mau berepot-repot untuk sesuatu yang unik.. kan seru loh..Ingin merasakan Budaya Jawa, dengan meresapi keberadaan Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat.


Kami menuju nDalem Joyokusuman yang merupakan bagian dari kraton, dibangun pada tahun 1916 pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Rumah berarsitektur Rumah Jawa ini pernah menjadi saksi sejarah di masa Republik Indonesia Serikat, yang kini menjadi kediaman Gusti Bendara Pangeran Haji Joyokusumo. Salah satu bagian ruangannya, yakni Gadri yang merupakan ruangan makan keluarga boleh digunakan oleh tamu untuk mencicipi Royal Lunch atau Dinner, hidangan kesukaan sultan, salah satunya Nasi Blawong. Untuk makan disini, “diwajibkan” berpakaian jawa. Bila tidak berbusana Jawa tetap bisa menikmati hidangan di pendopo (diluar). Sudah kebayang hebohnya.. pakai beskap lengkap dengan blangkon dan keris untuk para bapak.. persis Pak Raden. Ibu2nya pakai jarik. Kalau Mas Budi.. diluarnya beskap, tapi dalamanya “Obama”.















Sehabis dari Yogya, lalu menuju Parangtritis.. menikmati suasana senja di tepi pantai. Makan sekoteng, naik andong, lalu duduk-duduk di tikar sambil makan jagung bakar.. nikmat..! Malam hari di Tembi, kami disajikan Live Music.bersama seniman setempat. Ternyata banyak juga yang nginap disini. Ada beberapa artis, antara lain Cathy Sharon, Rianti Cartwright, Aming, Djaduk Ferianto dll.







Pagi harinya.. horee.. naik sepeda.. Disini bisa nyewa sepeda, satunya Rp 25.000 bisa keliling desa, diengan dipandu ‘tour guide’ dari Rumah Tembi, melewati jalan-jalan kecil dengan pemandangan sawah nan indah.. Senang sekali...! Siang harinya menuju Ketep Pass menikmati pemandangan gunung Merapi Merbabu dari ketingginan.. sayang tertutup awan, sehingga tidak begitu terlihat hijaunya gunung.. Dari Ketep Pass menuju Ulen Sentalu di Kaliurang, disana pun suasananya menyenangkan. Sejuk dan asri.






Banyak kenangan menyenangkan dan berkesan dalam perjalanan ini.. Ber-16 bukan jumlah yang sedikit untuk jalan bareng, bisa saja ada perbedaan pendapat. Namun seperti prinsip Orang Jepang, kita harus “Kaizen”, ambil yang baik, buang yang buruk. Mudah-mudahan kita bisa terus berteman dalam suasana kebersamaan dan kehangatan.



Terima Kasih untuk :

Mas Budiarto Shambazy, yang telah menyediakan tiket Garuda PP dan akomodasi. Membuat perjalanan kami sangat sangat sangat murah.
Mbak Sari Waskito dan Yayak M Saat yang sudah mengatur perjalanan sedemikian rupa sehingga membuat semua merasa senang dan nyaman.
Mbak Maudy Rumah Tembi, atas keramahtamahannya.
Teman-teman semua yang sudah membuat perjalanan ini terasa hangat dan akrab.

Jakarta 13 Februari 2010

Salam,

Meita